A Piece Of Love At New Year Night Part 2

Genre : Sad Romance, Friendship, Tragedy

Cast :

. Kim Hyo Rin

. Kim Ki Bum (Key)

. Choi Minho

. Kim JongHyun

. Lee Jinki (Onew)

. Lee Taemin

Jam menunjukkan hampir pukul 9 malam. Koridor kampus sudah mulai sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah memilih pulang, sedang sebagian lagi masih menetap di kampus karena masih ada kegiatan.

Sama seperti Minho. Dia baru saja menyelesaikan rekaman sebuah lagu untuk tugas kuliah musik besok. Sambil membereskan alat musik dan peralatan rekaman, Minho memikirkan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu.

-flash back-

Hyo Rin yang pernah ditemui Key dan Minho sebelumnya kini tengah berdiri diantara Jong, Taemin, Key, Onew dan juga Minho. Hyo Rin tampak sangat kebingungan. Wajahnya terlihat panik dan juga pucat.

“Kau noona yang kemarin kutemui kan?” tanya Key pada Hyo Rin.

Tapi Hyo Rin tidak menjawab, jutru tertunduk dalam.

“Hey noona.” Key mencengkram pundak Hyo Rin. “Aku sedang bertanya padamu. Kenapa kau tidak menjawab?”

Hyo Rin menengadah memandang Key yang sedikit lebih tinggi darinya. Wajah Hyo Rin benar-benar ketakutan. Dia memandang kea rah JJong, Onew, Taemin, lalu Minho sepintas. Sampai akhirnya pergi dengan terburu-buru tanpa kata-kata.

-end of flashback-

Klek! Minho memastikan ruang rekaman terkunci dengan baik. Setelah itu barulah ia berjalan perlahan melintasi koridor.

“Kampus sudah benar-benar sepi.” Batinnya.

Disaat yang bersamaan, Minho mendengar dentingan piano dari ruangan sebelah. Bulu kuduk Minho sempat berdiri. Ia menoleh kesegala arah tapi tidak menemukan siapapun disana.

Minho sempat ingin lari, tapi sesuatu melegakannya.

“Noona, kau belum pulang?”

Noona yang sedang bermain piano itu menghentiukan permainannya dan menoleh kea rah Minho.

“Mian aku mengganggumu. Kebetulan tadi aku mendengar permainanmu dan aku memutuskan untuk mampir saat aku tahu itu kau.”

Hyo Rin meremas tangannya dan tak berani menatap Minho.

“Kau belum menjawab pertanyaanku noona. Sedang apa kau disini?” Minho mendekat. Hyo rin bereaksi menjauh.

“Sekali lagi maaf, aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin berteman denganmu. Itu saja.”

 

Hyo Rin terkejut mendengar pernyataan Minho. Selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya. Jangankan berteman, berbicara padanya pun jarang. Minho tidak menyadari keterkejutan Hyo Rin, ia justru tersenyum lalu duduk disamping Hyo Rin dan mulai memainkan piano.

Dentingan lagu Reason (OST Endless Love) mengalun indah. Sambil menekan tuts demi tuts piano, Minho memejamkan matanya dan menghayati dentingan itu lebih dalam. Sedangkan Hyo Rin terpaku menatap Minho, dalam dadanya seperti ada desir yang hinggap. Tapi ia belum memiliki cukup waktu untuk mengetahuinya.

“Permainanmu sangat bagus.”

Minho tersenyum, “Akhirnya aku mendengar kau berbicara juga.”

 

Kata-kata itu membuat Hyo Rin tercekat. Ia benar-benar malu karena Minho menyadarinya.

Tepat setelah itu PET! Tiba-tiba lampu studio musik mendadak mati. Hyo Rin dan Minho sempat terkejut menyadarinya. Mereka berdua berlari menuju pintu keluar, namun naasnya pintu itu terkunci!

“Apa ada orang diluar? Tolong! Kami terperangkap disini.” Teriak Minho sekencang mungkin sambil menggedor-nggedor pintu itu. Namun tak ada tanda-tanda orang mendengar teriakannya.

Minho merogoh saku kanannya dan mulai memencet tombol di hapenya. “Astaga, ini sudah jam 9. Pantas saja semua pintu dikunci.”

“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Hyo Rin panik.

Minho mencoba menelfon Key, tapi hape Key tidak aktif. Dia beralih menelfon Onew, tapi tidak diangkat. Saat ia ingin menelfon Jjong, mendadak hapenya mati.

“Sial! Batrai hpku habis!” minho mendengus kesal.

Hyo Rin yang ada disampingnya hanya mampu terduduk lemas bersandar pada pintu. “Sepertinya kita terperangkap disini.”

Minho tidak mau menyerah. Dia mencoba mencari jendela atau apapun yang bisa membawanya keluar. Tapi hasilnya nihil. Dia benar-benar terkurung ditempat itu.

“Kau benar. Sepertinya malam ini kita harus menginap ditempat ini.” Ucap minho menyerah.

Hyo Rin memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya lebih dalam. Dan berjarak setengah meter dari Hyo Rin, ada Minho yang duduk dengan satu kaki lurus kedepan dan satunya lagi ditekuk. Tangannya bersangga pada kaki yang ia tekuk.

“Oh iya, kenalkan. Aku minho. Choi minho. Noona?” tanya minho dalam gelap.

Hyo Rin tidak langsung menjawab. “Jangan panggil aku noona. Panggil aku Hyo Rin saja. Kita satu angkatan.”

“Benarkah? Tapi aku pernah melihatmu mengikuti sebuah ‘kelas’ yang seharusnya diikuti oleh kakak angkatan.”

Hyo Rin terkejut. Jika lampu tidak padam, Minho pasti bisa melihat Hyo Rin sedang shock sekarang. Dia sama sekali tidak pernah mengira bahwa namja sepopuler Minho ternyata memperhatikan hal sekecil itu.

“Hyo Rin? Kau melamun?”

“Eh, tidak. Aku . . . aku memang mengikuti beberapa kelas yang seharusnya diambil kakak angkatan.”

“Itu pasti karena IPK mu tinggi bukan? Suatu saat nanti saat kau sudah lulus dari kampus ini, pasti kau akan jadi pemusik yang terkenal.”

Hyo Rin tidak menjawab. Minho pun tidak kembali bertanya. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.

“Minho, jika kuperhatikan, kau sering berjalan dengan seorang namja. Siapa dia?” tanya Hyo Rin pelan.

Tak ada jawaban.

 

Hyo Rin menoleh kea rah Minho, tapi yang ia temukan hanya bayangan kegelapan. Hyorin mengulurkan tangannya meraih Minho, tapi ia tidak menyentuh apapun. Mungkin Minho sudah tertidur sekarang.

***

“Hyo Rin… bangun…”

Ruangan itu tak lagi gelap, cahaya matahari mulai memasuki ventilasi ruangan dan membias ke benda-benda yang ada diruangan itu. Minho melirik jam dinding, pukul 05.30.

“Hyo Rin, bangun. Ini sudah pagi.” Ucap minho lagi.

Jika saja yang tertidur dihadapannya ini adalah Onew, sudah pasti Minho akan mengguncang-guncangkan tubuh Onew hingga terbangun. Tapi ini Hyo Rin, jangankan mengguncangkan tubuhnya, menyentuhpun Minho tidak berani.

“Hyo Rin-ah…” panggilnya lagi.

Tidak bergeming.

Akhirnya Minho memutuskan untuk menyentuh Hyo Rin dengan satu telunjuk jarinya. Namun saat telunjuk Minho menyentuh tubuh Hyo Rin dengan lembut, tiba-tiba Hyo Rin dengan lemah terjatuh kesamping. Wajah Hyo Rin terlihat pucat.

 

“Hyo Rin? Apa kau tidak apa-apa?” pekik Minho.

***

Hyo Rin membuka matanya pelan-pelan. Cahaya bersinar begitu terang dan menyilaukan pandangannya sesaat. Tiba-tiba kepalanya berdenyut dan terasa pusing.

“Hyo Rin, kau sudah sadar?” tanya Key pada Hyo Rin. Wajah Key begitu dekat dan terlihat sangat besar dimata Hyo Rin. Membuat Hyo Rin melonjak kaget.

“Key, kau membuatnya terkejut saja.” Ucap Jjong.

Hyo Rin mencari sumber suara itu. Jjong tersenyum saat menyadari Hyo Rin menatap ke arahnya.

“Ini noona, minumlah selagi masih hangat.” Tawar Taemin sambil menyodorkan sebuah gelas.

Hyo Rin masih bingung kenapa dia bisa ada ditempat ini. Tempat ini terasa begitu asing. Dan ke-3 namja itu. Hyo Rin merasa belum pernah melihatnya.

“Mian,aku yang membawamu kesini Hyo Rin. Tadi pagi aku panic melihatmu pingsan. Badanmu panas sekali.” Ucap Minho yang baru datang. “Awalnya aku ingin membawamu ke RS, tapi aku takut kalau mereka bertanya yang bukan-bukan. Jadi aku membawamu ke apartemen kami.”

“Ne, selamat datang di ‘dunia kami’” ucap Onew sambil tersenyum lebar. (krik krik krik)

Ke -4 namja lain menoleh heran kea rah Onew. ‘dunia kami (?)’

“Sudahlah, Onew Hyung tidak usah dipedulikan.” Ucap Key. “Sepertinya panas tubuhmu sudah turun. Sebaiknya sekarang kau sarapan.”

Hyo Rin merasa canggung karena harus duduk semeja dengan mereka berlima – orang yang baru saja ia kenal. Ketakutannya sudah tidak berguna sekarang.

“Oh iya Hyo Rin, aku belum memperkenalkan mereka.” Ucap Minho seusai makan. “Ini Onew Hyung, itu JongHyun Hyung, Key dan ini Taemin.” Yang terakhir disebutkan namanya langsung tersenyum. Hyo Rin pun membalas senyuman namja itu.*blush*

“Apartemen ini sebenarnya milik Onew hyung.” tambah Key. “Tapi dia berbaik hati membiarkan kami semua menumpang disini untuk menemaninya. Kekeke~”

“Iya, tapi dengan satu syarat. Seharusnya kau memasakkan sarapan setiap pagi untuk kami Key.” protes Onew.

“Aku selalu membuatkan sarapan.”

“Ne, itu kalau kau sempat. Tapi setiap pagi kau tidak pernah sempat.” -___-

“Siapa bilang? Aku… bla…bla…bla..”

Hyo Rin menunduk. Ia tidak biasa mendengar keributan seperti ini.

“Apa kau ingin pulang sekarang Hyo Rin? Biar kuantar.”

Hyo Rin ingin menjawab pertanyaan Minho, tapi Key lebih dulu memotongnya, “Kau yang mengantar, tapi biarkan aku yang menyetir.