The Piece Of Love At New Year Night Part 4

Genre : Sad Romance, Friendship, Tragedy

Cast :

. Kim Hyo Rin

. Kim Ki Bum (Key)

. Choi Minho

. Kim JongHyun

. Lee Jinki (Onew)

. Lee Taemin

 

Pagi itu Hyo Rin berjalan kaki seperti biasa menuju kelasnya. Sejak tadi ia tidak berhenti memikirkan kejadian semalam. Hyo Rin benar-benar merasa tidak enak pada minho. Namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain merebut benda yang minho bawa dan segera menutup pintu rumahnya rapat-rapat.

“Annyeong Hyo Rin!”

Itu suara Key yang membuat Hyo Rin melonjak kaget. Dibelakang Key mengekor Minho yang menatap Hyo Rin dalam.

Hyo Rin menggigit bibir bawahnya. Tatapan minho seakan memaksa Hyo Rin untuk menjawab pertanyaan Minho tadi malam.

Tanpa berfikir lebih lama lagi, langkah Hyo Rin membawanya pergi meninggalkan Key dan Minho yang berdiri mematung.

 

“Ada apa dengan dia ya?” tanya key melihat kepergian Hyo Rin.

***

Hari itu Key bertekat menunggu Hyo Rin di pintu masuk kampus. Membuat Hyo Rin tak mampu lagi menghindar.

“Kenapa waktu itu kau meninggalkan aku dan Minho begitu saja Hyo Rin? Akhir-akhir ini kau selalu menghindari kami berdua.” Tanya key sambil menatap Hyo Rin tajam. Lalu akhirnya ia merenggangkan pundaknya, “Apa kami berbuat salah padamu?”

Hyo Rin tidak tahu musti menjawab apa. Dia memang sengaja menghindari Minho dan Key. Karena sesuatu yang waktu itu Minho temukan menyadarkan Hyo Rin, bahwa ia tak pantas berteman dengan siapapun. Termasuk Minho dan juga seseorang yang ada dihadapannya sekarang.

“Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawabnya. Tapi maukah kau berjanji untuk tidak menghindari kami lagi?”

Lagi-lagi Hyo Rin membisu. Ternggorokan yeoja itu tercekat. Ia tidak tahu bisa memenuhi permintaan itu atau tidak.

Tanpa menunggu jawaban dari Hyo Rin, Key menggandeng tangannya kedalam kampus. Hyo Rin pun tidak berani menolak ajakan Key, dia tidak lagi sanggup mengecewakan namja itu.

Langkah Hyo Rin dan Key terhenti tepat di auditorium kampus. Disana sudah banyak sekali mahasiswa lain yang tampak bosan menunggu kedatangan Hyo Rin.

‘Astaga, apa yang telah Key lakukan sehingga semua mahasiswa bisa berkumpul di tempat ini?’ batin Hyo Rin.

Ditengah auditorium itu terdapat sebuah piano, dan minho tampak terduduk manis di baliknya. Minho tersenyum begitu melihat Hyo Rin tiba, namun Hyo Rin justru tertunduk dalam.

“Didepan semua orang disini, aku ingin menyanyikan sebuah lagu untukmu Hyo Rin.” Ucapan Key disambut meriah tepuk tangan semua mahasiswa yang hadir. Kemudian Key memberi tanda pada Minho untuk mulai memainkan music.

Iringan lagu “Life” menggema diudara, membuat seisi ruangan tersentuh mendengarnya.

Key menggenggam tangan Hyo Rin lebih erat dan perlahan mengucapkan bait demi bait lagu itu penuh penghayatan.

 

Oh, geochin salme shideureo galttae geudaega naege dagawa

Eoreo buteun geu maeume soneul daen sungan

naye salmeun shijak dwae sseumeul

Ruangan itu mendadak menjadi terasa sepi. Hanya ada Key, Hyo Rin dan alunan lagu yang terdengar tenang. Setenang nada dari bait yang Key nyanyikan.

 

Geudae jichigo himdeulttae budi geu yeopjariye nareul igehae

Bagiman han sarangeul dashi deurilsu ige isalmi kkeunagi jeone

Bait demi baik dinyanyikan Key dengan penuh penghayatan. Membuat Hyo Rin terpaku mendengarnya.

 

Sesange mureup kkulko nunmul heullil ttae,

pukpun sokbal meomchul ttae geudaeman seo itamyeon

Eotteon apeum nunmul jjeum chameulsu ineun geolyo

All I want is you, only one is you in my life

Key menatap lekat ke arah Hyo Rin. Tatapan itu sungguh dalam dan penuh arti. Inilah yang Hyo Rin hindari. Tatapan teduh milik Key selalu mampu menghipnotisnya dalam hitungan detik.

“Saranghaeyo, Hyo Rin.” Ucap Key akhirnya.

Hyo Rin tak mengeluarkan sepatah katapun. Jantungnya mendadak berdenyut diatas normal. Kemudian ia melihat ke arah Minho sepintas. Wajah Minho terlihat datar namun tersirat sebuah keraguan dibaliknya.

“Apakah kau mau menjadi yeojachinguku, Kim Hyo Rin?” tanya key dengan tegas.

Kata-kata dari Key yang Hyo Rin takutkan keluar juga pada akhirnya. Jantung Hyo Rin benar-benar sudah tidak selamat sekarang. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Hyo Rin bisa merasakan matanya mulai memanas. ‘Hal ini tidak seharusnya terjadi.’ Ucap Hyo Rin dalam hati.

Sejak pertama kali mengenal Key, Hyo Rin tahu kalau ia harus pergi secepat mungkin karena Hyo Rin hanya akan mengecewakan Key pada akhirnya. Namun semakin Hyo Rin mencoba menjauh, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin hal itu terjadi. Ia tak sanggup meninggalkan Key…dan juga Minho yang menerima ia apa adanya…

“Hyo Rin…” panggil Key lirih.

Hyo Rin menjadi semakin dilemma. Ia menatap Key ragu. Disekitarnya kini ada ratusan pasang mata yang menunggu jawaban darinya. Tapi sampai detik inipun ia belum menemukan jawaban yang mereka tunggu.

“Hemhh..” Hyo Rin menghela nafas. “Mianhe Key.” air mata Hyo Rin mulai menggenang. “Jeongmal mianhe, aku tidak bisa.”

Semua orang terkejut. Termasuk Key yang hampir saja tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir mungil Hyo Rin. Jantung Key seperti berhenti dalam beberapa saat.

“Gwenchana Hyo Rin. Jangan menangis.” Ucap Key sambil sekuat tenaga menahan kekecewaan yang menyerangnya saat ini.

Hyo Rin tidak tahan melihat tatapan Key yang seakan menghujam ke arahnya. Hatinya bergejolak hebat.

 

Akhirnya Hyo Rin pergi dari tempat itu tanpa suara, meninggalkan sebuah harapan besar yang kini telah pupus.

***

“Sedang apa kau malam-malam begini duduk sendirian ditempat ini Hyo Rin?”

Hyo Rin menoleh, “Minho?”

Minho tersenyum tipis lalu duduk didekat Hyo Rin – disebuah bangku taman.

“Bagaimana kabar Key?” tanya Hyo Rin ragu-ragu.

“Kurasa dia akan segera baik-baik saja.”

“Maksudmu? Berarti sekarang dia sedang tidak baik-baik saja?”

Minho menunduk sesaat, “Aku tidak bisa bilang kalau dia sedang baik-baik saja. Tapi dia sudah dewasa, aku yakin dia bisa menerima keputusanmu dengan lapang dada.”

Mendengar ungkapan Minho, Hyo Rin menjadi merasa bersalah. Dia menyesal telah mengecewakan Key yang sangat baik hati padanya. Tapi ia tidak punya pilihan.

Dada Hyo Rin terasa sakit jika harus mengingatnya.

“Bolehkah aku tahu alasannya Hyo Rin?” tanya Minho. “Kenapa kau menolak Key? Apa kau tidak mencintainya?”

Hyo Rin menggigit bibir bawahnya keras-keras. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Minho karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

“Maaf jika aku bertanya demikian. Tapi tidak pa-pa jika memang kau tidak mau menjawabnya.

Hening sejenak.

“Kau tahu Minho, aku tidak pernah menyangka bisa sejauh ini mengenal kalian. Aku bahkan tidak pernah bermimpi bisa mempunyai teman. Bisa melalui setiap detik saja sudah lebih dari cukup bagiku.”

Minho mengerutkan dahi.

“Sampai akhirnya kalian hadir. Kehadiran kalian membawa begitu banyak perubahan. Aku jadi mengerti arti sebuah persahabatan… pengorbanan…” tatapan Hyo Rin beralih kea rah minho. “Dan…cinta…”

Minho mencerna jawaban Hyo Rin sejenak. Tatapannya lekat tanpa mengalihkan pandangan. Tapi sesaat kemudia ia terkejut karena mendapati mata Hyo Rin mulai basah. Gadis itu menangis.

“Tapi setelah kau menemukan obat itu. Aku jadi sadar bahwa tidak seharusnya aku hadir dalam hidup kalian. Karena semuanya akan berakhir sia-sia.” Hyo Rin melanjutkan kata-katanya. “Kau pasti sudah tahu obat apa yang kau temukan. Bukan begitu Minho?”

Minho tak menjawab.

“Bahkan aku tidak tahu bisa melewati akhir tahun ini atau tidak. Hidupku tidak akan lama lagi.” Lanjutnya putus asa.

“Jangan bicara seperti itu Hyo Rin. Mianhe karena aku telah mengetahui hal yang selama ini kau simpan.”

Air menggenang di kelopak mata Hyo Rin. Lama kelamaan meluncur melewati pipinya yang basah.

“Tidak Minho. Sudah saatnya aku menjauh dari kalian, atau semua akan bertambah rumit nantinya.”

Minho menatap Hyo Rin iba. Kemudian ia merengkuh bahu Hyo Rin dan membenamkan didadanya.

Air mata Hyo Rin benar-benar tumpah dalam pelukan.

“Jadi apakah ini alasan kau menolakku Hyo Rin?”

Minho dan Hyo Rin terkejut bersamaan saat menyadari ada orang lain yang melihatnya.

“Key??”

A Piece Of Love At New Year Night Part 2

Genre : Sad Romance, Friendship, Tragedy

Cast :

. Kim Hyo Rin

. Kim Ki Bum (Key)

. Choi Minho

. Kim JongHyun

. Lee Jinki (Onew)

. Lee Taemin

Jam menunjukkan hampir pukul 9 malam. Koridor kampus sudah mulai sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah memilih pulang, sedang sebagian lagi masih menetap di kampus karena masih ada kegiatan.

Sama seperti Minho. Dia baru saja menyelesaikan rekaman sebuah lagu untuk tugas kuliah musik besok. Sambil membereskan alat musik dan peralatan rekaman, Minho memikirkan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu.

-flash back-

Hyo Rin yang pernah ditemui Key dan Minho sebelumnya kini tengah berdiri diantara Jong, Taemin, Key, Onew dan juga Minho. Hyo Rin tampak sangat kebingungan. Wajahnya terlihat panik dan juga pucat.

“Kau noona yang kemarin kutemui kan?” tanya Key pada Hyo Rin.

Tapi Hyo Rin tidak menjawab, jutru tertunduk dalam.

“Hey noona.” Key mencengkram pundak Hyo Rin. “Aku sedang bertanya padamu. Kenapa kau tidak menjawab?”

Hyo Rin menengadah memandang Key yang sedikit lebih tinggi darinya. Wajah Hyo Rin benar-benar ketakutan. Dia memandang kea rah JJong, Onew, Taemin, lalu Minho sepintas. Sampai akhirnya pergi dengan terburu-buru tanpa kata-kata.

-end of flashback-

Klek! Minho memastikan ruang rekaman terkunci dengan baik. Setelah itu barulah ia berjalan perlahan melintasi koridor.

“Kampus sudah benar-benar sepi.” Batinnya.

Disaat yang bersamaan, Minho mendengar dentingan piano dari ruangan sebelah. Bulu kuduk Minho sempat berdiri. Ia menoleh kesegala arah tapi tidak menemukan siapapun disana.

Minho sempat ingin lari, tapi sesuatu melegakannya.

“Noona, kau belum pulang?”

Noona yang sedang bermain piano itu menghentiukan permainannya dan menoleh kea rah Minho.

“Mian aku mengganggumu. Kebetulan tadi aku mendengar permainanmu dan aku memutuskan untuk mampir saat aku tahu itu kau.”

Hyo Rin meremas tangannya dan tak berani menatap Minho.

“Kau belum menjawab pertanyaanku noona. Sedang apa kau disini?” Minho mendekat. Hyo rin bereaksi menjauh.

“Sekali lagi maaf, aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin berteman denganmu. Itu saja.”

 

Hyo Rin terkejut mendengar pernyataan Minho. Selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya. Jangankan berteman, berbicara padanya pun jarang. Minho tidak menyadari keterkejutan Hyo Rin, ia justru tersenyum lalu duduk disamping Hyo Rin dan mulai memainkan piano.

Dentingan lagu Reason (OST Endless Love) mengalun indah. Sambil menekan tuts demi tuts piano, Minho memejamkan matanya dan menghayati dentingan itu lebih dalam. Sedangkan Hyo Rin terpaku menatap Minho, dalam dadanya seperti ada desir yang hinggap. Tapi ia belum memiliki cukup waktu untuk mengetahuinya.

“Permainanmu sangat bagus.”

Minho tersenyum, “Akhirnya aku mendengar kau berbicara juga.”

 

Kata-kata itu membuat Hyo Rin tercekat. Ia benar-benar malu karena Minho menyadarinya.

Tepat setelah itu PET! Tiba-tiba lampu studio musik mendadak mati. Hyo Rin dan Minho sempat terkejut menyadarinya. Mereka berdua berlari menuju pintu keluar, namun naasnya pintu itu terkunci!

“Apa ada orang diluar? Tolong! Kami terperangkap disini.” Teriak Minho sekencang mungkin sambil menggedor-nggedor pintu itu. Namun tak ada tanda-tanda orang mendengar teriakannya.

Minho merogoh saku kanannya dan mulai memencet tombol di hapenya. “Astaga, ini sudah jam 9. Pantas saja semua pintu dikunci.”

“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Hyo Rin panik.

Minho mencoba menelfon Key, tapi hape Key tidak aktif. Dia beralih menelfon Onew, tapi tidak diangkat. Saat ia ingin menelfon Jjong, mendadak hapenya mati.

“Sial! Batrai hpku habis!” minho mendengus kesal.

Hyo Rin yang ada disampingnya hanya mampu terduduk lemas bersandar pada pintu. “Sepertinya kita terperangkap disini.”

Minho tidak mau menyerah. Dia mencoba mencari jendela atau apapun yang bisa membawanya keluar. Tapi hasilnya nihil. Dia benar-benar terkurung ditempat itu.

“Kau benar. Sepertinya malam ini kita harus menginap ditempat ini.” Ucap minho menyerah.

Hyo Rin memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya lebih dalam. Dan berjarak setengah meter dari Hyo Rin, ada Minho yang duduk dengan satu kaki lurus kedepan dan satunya lagi ditekuk. Tangannya bersangga pada kaki yang ia tekuk.

“Oh iya, kenalkan. Aku minho. Choi minho. Noona?” tanya minho dalam gelap.

Hyo Rin tidak langsung menjawab. “Jangan panggil aku noona. Panggil aku Hyo Rin saja. Kita satu angkatan.”

“Benarkah? Tapi aku pernah melihatmu mengikuti sebuah ‘kelas’ yang seharusnya diikuti oleh kakak angkatan.”

Hyo Rin terkejut. Jika lampu tidak padam, Minho pasti bisa melihat Hyo Rin sedang shock sekarang. Dia sama sekali tidak pernah mengira bahwa namja sepopuler Minho ternyata memperhatikan hal sekecil itu.

“Hyo Rin? Kau melamun?”

“Eh, tidak. Aku . . . aku memang mengikuti beberapa kelas yang seharusnya diambil kakak angkatan.”

“Itu pasti karena IPK mu tinggi bukan? Suatu saat nanti saat kau sudah lulus dari kampus ini, pasti kau akan jadi pemusik yang terkenal.”

Hyo Rin tidak menjawab. Minho pun tidak kembali bertanya. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.

“Minho, jika kuperhatikan, kau sering berjalan dengan seorang namja. Siapa dia?” tanya Hyo Rin pelan.

Tak ada jawaban.

 

Hyo Rin menoleh kea rah Minho, tapi yang ia temukan hanya bayangan kegelapan. Hyorin mengulurkan tangannya meraih Minho, tapi ia tidak menyentuh apapun. Mungkin Minho sudah tertidur sekarang.

***

“Hyo Rin… bangun…”

Ruangan itu tak lagi gelap, cahaya matahari mulai memasuki ventilasi ruangan dan membias ke benda-benda yang ada diruangan itu. Minho melirik jam dinding, pukul 05.30.

“Hyo Rin, bangun. Ini sudah pagi.” Ucap minho lagi.

Jika saja yang tertidur dihadapannya ini adalah Onew, sudah pasti Minho akan mengguncang-guncangkan tubuh Onew hingga terbangun. Tapi ini Hyo Rin, jangankan mengguncangkan tubuhnya, menyentuhpun Minho tidak berani.

“Hyo Rin-ah…” panggilnya lagi.

Tidak bergeming.

Akhirnya Minho memutuskan untuk menyentuh Hyo Rin dengan satu telunjuk jarinya. Namun saat telunjuk Minho menyentuh tubuh Hyo Rin dengan lembut, tiba-tiba Hyo Rin dengan lemah terjatuh kesamping. Wajah Hyo Rin terlihat pucat.

 

“Hyo Rin? Apa kau tidak apa-apa?” pekik Minho.

***

Hyo Rin membuka matanya pelan-pelan. Cahaya bersinar begitu terang dan menyilaukan pandangannya sesaat. Tiba-tiba kepalanya berdenyut dan terasa pusing.

“Hyo Rin, kau sudah sadar?” tanya Key pada Hyo Rin. Wajah Key begitu dekat dan terlihat sangat besar dimata Hyo Rin. Membuat Hyo Rin melonjak kaget.

“Key, kau membuatnya terkejut saja.” Ucap Jjong.

Hyo Rin mencari sumber suara itu. Jjong tersenyum saat menyadari Hyo Rin menatap ke arahnya.

“Ini noona, minumlah selagi masih hangat.” Tawar Taemin sambil menyodorkan sebuah gelas.

Hyo Rin masih bingung kenapa dia bisa ada ditempat ini. Tempat ini terasa begitu asing. Dan ke-3 namja itu. Hyo Rin merasa belum pernah melihatnya.

“Mian,aku yang membawamu kesini Hyo Rin. Tadi pagi aku panic melihatmu pingsan. Badanmu panas sekali.” Ucap Minho yang baru datang. “Awalnya aku ingin membawamu ke RS, tapi aku takut kalau mereka bertanya yang bukan-bukan. Jadi aku membawamu ke apartemen kami.”

“Ne, selamat datang di ‘dunia kami’” ucap Onew sambil tersenyum lebar. (krik krik krik)

Ke -4 namja lain menoleh heran kea rah Onew. ‘dunia kami (?)’

“Sudahlah, Onew Hyung tidak usah dipedulikan.” Ucap Key. “Sepertinya panas tubuhmu sudah turun. Sebaiknya sekarang kau sarapan.”

Hyo Rin merasa canggung karena harus duduk semeja dengan mereka berlima – orang yang baru saja ia kenal. Ketakutannya sudah tidak berguna sekarang.

“Oh iya Hyo Rin, aku belum memperkenalkan mereka.” Ucap Minho seusai makan. “Ini Onew Hyung, itu JongHyun Hyung, Key dan ini Taemin.” Yang terakhir disebutkan namanya langsung tersenyum. Hyo Rin pun membalas senyuman namja itu.*blush*

“Apartemen ini sebenarnya milik Onew hyung.” tambah Key. “Tapi dia berbaik hati membiarkan kami semua menumpang disini untuk menemaninya. Kekeke~”

“Iya, tapi dengan satu syarat. Seharusnya kau memasakkan sarapan setiap pagi untuk kami Key.” protes Onew.

“Aku selalu membuatkan sarapan.”

“Ne, itu kalau kau sempat. Tapi setiap pagi kau tidak pernah sempat.” -___-

“Siapa bilang? Aku… bla…bla…bla..”

Hyo Rin menunduk. Ia tidak biasa mendengar keributan seperti ini.

“Apa kau ingin pulang sekarang Hyo Rin? Biar kuantar.”

Hyo Rin ingin menjawab pertanyaan Minho, tapi Key lebih dulu memotongnya, “Kau yang mengantar, tapi biarkan aku yang menyetir.